Berita

Dari Atensi Mutu ke Kader Literasi: Menumbuhkan Bahasa dan Pengetahuan Antargenerasi dalam Pesantren Kurikulum

01 November 2026 Nurul Huda Media Center 11 menit baca

Oleh: DMS. Harby*

Pemilihan Duta Bahasa Universitas Nurul Huda merupakan agenda rutin Pusat Layanan Bahasa UNUHA. Pada penyelenggaraan tahun 2026/2027, perhatian terhadap keadaan satuan pendidikan di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja memperoleh tempat dalam pembinaan calon peserta.

Perhatian itu berkaitan dengan rapat yayasan yang mengevaluasi Rapor Pendidikan satuan pendidikan dasar dan menengah, termasuk keadaan kebahasaan di MI Nurul Huda Sukaraja. Dalam pembinaan calon peserta Pildubas, keadaan tersebut disampaikan sebagai salah satu perhatian yang dapat dipertimbangkan.

Sebagai salah seorang juri, saya mendengar langsung penjelasan Kepala Pusat Layanan Bahasa UNUHA, Dwi Andriani, M.Pd., kepada saya dan forum pada hari pertama dan kedua kegiatan. Penjelasan itu membantu saya melihat hubungan antara pembinaan mahasiswa dan kebutuhan pendidikan di lingkungan yayasan.

Dari proses tersebut, tiga peserta memilih MI Nurul Huda Sukaraja sebagai lokus krida kebahasaannya. Mereka menawarkan gagasan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu perhatian: bagaimana membantu anak membaca, memahami, dan menyampaikan kembali pengetahuan.

Bagi saya, hubungan ini penting. Agenda rutin universitas memperoleh kesempatan untuk mempertemukan prakarsa mahasiswa dengan perhatian terhadap mutu satuan pendidikan. Dari sana muncul pertanyaan lanjutan: bagaimana gagasan itu dapat dibina, dipertemukan dengan kebutuhan nyata, dan dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang berkelanjutan?

Dari Perhatian terhadap MI Menuju Gagasan Krida

Puji Rahayu menawarkan gagasan Literasi Seru, Membaca Jadi Asyik. Kegiatannya diarahkan pada pembiasaan membaca, penyediaan pojok baca, permainan kata, dan kesempatan berbagi cerita.

Dias Saputri mengembangkan Ayo Baca, Ayo Cerita. Ia menghubungkan kegiatan membaca dengan pemahaman terhadap tokoh, peristiwa, dan pesan cerita, lalu mengajak siswa menceritakannya kembali dengan bahasa sendiri.

Sementara itu, Riska Safa merancang Baca, Pahami, Ceritakan Kembali bagi siswa kelas V. Perhatiannya tertuju pada penguatan kosakata, pemahaman bacaan, penyusunan kalimat, dan keberanian menyampaikan kembali informasi.

Ketiga krida tersebut menunjukkan adanya perhatian mahasiswa kepada MI Nurul Huda Sukaraja. Masing-masing membawa cara dan penekanan yang berbeda. Gagasan itu masih perlu dipertemukan dengan guru dan pengelola madrasah agar kebutuhan awal siswa, kegiatan yang tepat, dan cara mengevaluasi hasilnya dapat disepakati bersama.

Dalam rancangan pengembangan pusat keunggulan YPPNH Sukaraja, MI Nurul Huda Sukaraja bersama RA, MTs, dan MA Nurul Huda Sukaraja berada dalam lingkup Madrasah Sains Pesantren. Pada lingkungan pendidikan tersebut, kemampuan membaca, memahami pertanyaan, mengolah informasi, dan menjelaskan gagasan menjadi dasar untuk mempelajari berbagai bidang.

Penguatan literasi dasar pada MI karena itu memiliki hubungan dengan pengembangan sains. Anak memerlukan bahasa untuk bertanya tentang apa yang dilihatnya, membaca penjelasan, menyampaikan pendapat, dan menceritakan hasil pengamatannya.

Bahasa dalam Pendidikan Transformatif Pesantren

Perhatian terhadap bahasa dan kaderisasi memiliki hubungan dengan penelitian saya tentang Pendidikan Transformatif Transmigran di PPNH Sukaraja.

Dalam penelitian tersebut, pendidikan Nurul Huda saya baca melalui corak Pendidikan Salafiyah Plus. Pembelajaran pesantren tumbuh bersama pengembangan pendidikan formal dan berhubungan dengan perubahan kehidupan masyarakat transmigran.

Dalam pembacaan terhadap peran sosial pesantren, pengembangan bahasa, pembinaan bahasa Indonesia, dan kaderisasi pejuang pesantren muncul sebagai bagian dari proses pendidikan dan perubahan sosial. Bahasa berhubungan dengan kemampuan masyarakat mengembangkan pengetahuan serta memperluas ruang geraknya; kaderisasi berkaitan dengan keberlanjutan perjuangan pendidikan pesantren.

Pengalaman dan temuan penelitian itu memberikan pijakan untuk melihat pembahasan hari ini. Lingkungan pendidikan telah berkembang, satuan bertambah, dan UNUHA tumbuh sebagai bagian pendidikan tinggi. Tantangannya ialah bagaimana hubungan bahasa, pengetahuan, pendidikan, dan kaderisasi terus dikembangkan sesuai kebutuhan generasi sekarang.

Rancangan Studio Literasi, Pojok Literasi, dan pembinaan antargenerasi merupakan ikhtiar pengembangan pada konteks sekarang. Rancangan ini tidak dengan sendirinya menjadi temuan penelitian saya tahun 2018. Keduanya berada pada waktu dan tahap yang berbeda, tetapi dapat dihubungkan sebagai kesinambungan perhatian terhadap pendidikan dan perubahan.

Bahasa Hidup dalam Pesantren Kurikulum

Pesantren Kurikulum yang berangkat dari praksis K.H. Affandi menghubungkan pendidikan diniyah salafiyah dan pendidikan formal. Pembelajaran itu tumbuh bersama pengasuhan asrama, kegiatan pesantren, dan hubungan dengan masyarakat.

Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan penting sebagai bahasa persatuan, pendidikan, dan pengembangan ilmu. Bahasa daerah (terutama Komering secara geografis dan Jawa secara demografis) menghubungkan peserta didik dengan pengalaman serta pengetahuan masyarakat. Bahasa Arab memberi akses kepada khazanah keilmuan Islam (terutama kepesantrenan), sedangkan bahasa asing lainnya memperluas perjumpaan dengan perkembangan pengetahuan dunia.

Kecakapan bahasa tersebut berkembang melalui kebiasaan. Santri belajar menggunakan kata ketika bertanya kepada guru, berdiskusi dengan teman, membaca teks, menulis, atau menyampaikan pendapat. Pada saat yang sama, ia belajar mendengar, menghargai lawan bicara, dan mempertimbangkan cara menyampaikan pesan.

Penguatan kosakata, percakapan, dan muhadharah merupakan bagian dari ruang pembiasaan itu. Dalam muhadharah, santri menyiapkan isi, mengurutkan gagasan, dan melatih keberanian berbicara. Melalui masukan pembina dan teman, ia belajar memperbaiki penampilannya.

Pramuka dan organisasi santri pun menyediakan ruang penggunaan bahasa. Anggota regu membaca petunjuk, berdiskusi, menyanyikan lagu, dan menyampaikan laporan. Pengurus organisasi belajar memimpin rapat, menulis pengumuman, menyusun notulensi, dan mempertanggungjawabkan kegiatan.

Dengan menghubungkan pengalaman tersebut, bahasa dan literasi dapat tumbuh sebagai bagian dari kehidupan pendidikan pesantren.

Pojok dan Studio Literasi Sebagai Ruang Kaderisasi

Kegiatan yang baik memerlukan kesinambungan. Ia membutuhkan bahan, pendamping, tempat belajar, dan hubungan antarpeserta yang memungkinkan pengalaman terus berkembang.

Dalam rancangan yang sedang dikembangkan, Pojok Literasi dan Studio Literasi menjadi struktur penggerak pembinaan bahasa dan literasi. Pojok mendekatkan bacaan dan kegiatan kepada peserta didik. Studio Literasi SMAT PPNH Tanah Merah menjadi simpul pengembangan keterampilan, penyuntingan, komunikasi, dokumentasi, dan karya.

Hubungan keduanya dapat berlangsung dua arah. Studio membantu mengembangkan bahan dan mendampingi kegiatan; pengalaman pembaca dan karya yang tumbuh di Pojok menjadi masukan bagi Studio untuk memperbaiki bahan serta program.

Pojok Literasi Hasan Qolay, Arlan Ismail, dan Bur Rasuanto dalam rancangan jejaring membawa arah pengayaan sains pesantren, bahasa pesantren, dan teknologi pesantren. Identitas tersebut memberi peluang agar kegiatan membaca dan menulis terhubung dengan berbagai bidang pengetahuan.

Perpustakaan, Pusat Layanan Bahasa, Laboratorium Bahasa, program studi, dan pusat yang relevan di UNUHA dapat memperkuat jejaring itu sesuai mandat dan kesepakatan masing-masing. Perpustakaan mendukung akses bacaan; layanan bahasa membantu pengembangan kecakapan; program studi dan dosen menghubungkan kegiatan dengan pembelajaran serta kepakarannya.

Dari Kelas IV Menuju Mahasiswa

Kaderisasi Duta Pegiat Bahasa dan Literasi dapat dimulai sejak kelas IV pendidikan dasar. Kader kelas IV–VI memperoleh pengalaman membaca, mengenal kata, bercerita, menulis sederhana, dan berkarya bersama.

Dalam rancangan ini, kader kelas IV–VI didampingi senior kelas VII–IX. Kader kelas VII–IX selanjutnya dibina oleh senior kelas X–XII. Para senior tetap memperoleh pembinaan; mereka belajar mendampingi sesuai usia dan kesiapan, sementara guru dan pembina mengarahkan seluruh kegiatan.

Pada jenjang menengah atas, Studio Literasi dapat menjadi ruang untuk memperdalam keterampilan dan mengelola karya. Senior santri berlatih menyiapkan bahan, mengembangkan kegiatan, dan mendampingi kader yang lebih muda.

Sementara itu, perhatian utama pembinaan kecakapan mahasiswa diarahkan kepada mahasiswa semester I–VI yang berada di lingkungan PPNH Tanah Merah. Dalam hubungan kaderisasi, mereka berkedudukan sebagai seniornya senior santri.

Mahasiswa perlu dibina kecakapannya bagi pertumbuhan dirinya sendiri: adab, komunikasi, membaca kritis, menulis, menyunting, kepemimpinan, organisasi, dan khidmah. Pembinaan itu terhubung dengan kehidupan pesantren dan asrama, mata kuliah berbasis RPS, program studi, UKM Pegiat Literasi Kumoring, serta pusat dan layanan yang relevan.

Sesuai kesiapan dan supervisi, mahasiswa kemudian dapat mendampingi kader kelas X–XII melalui Studio Literasi. Hubungan kegiatan dengan tugas mata kuliah perlu disesuaikan dengan RPS dan disepakati bersama dosen serta mitra.

Dengan demikian, kesinambungannya dapat dirancang dari mahasiswa, kader kelas X–XII, kader kelas VII–IX, hingga kader awal kelas IV–VI. Setiap tingkat belajar sekaligus menyiapkan dirinya untuk mendampingi generasi berikutnya.

Ibnu: Pendidikan Bahasa dan Khidmah Pesantren

Hubungan antara pesantren, perguruan tinggi, dan kaderisasi memperoleh gambaran konkret pada Muhammad Ibnu Atho’illah.

Ibnu adalah alumni PPNH Tanah Merah yang mengabdi di lingkungan pesantrennya sambil menempuh pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FIP UNUHA Kampus C. Kampus C berada dalam satu kompleks dengan PPNH Tanah Merah. Kondisi itu memberi peluang untuk mempertemukan pembelajaran perguruan tinggi, pengalaman pesantren, dan khidmah dalam lingkungan yang saling berdekatan.

Melalui krida GEMA KAGANGA, Ibnu menawarkan pembelajaran aksara daerah menggunakan kartu visual dan mading kreatif. Gagasannya membuka ruang bagi pengenalan aksara dan kerja kelompok melalui media yang dapat digunakan secara luring.

Dalam pengembangannya, bahan aksara perlu ditelaah bersama penutur atau pihak yang memiliki kepakaran terkait. Dengan pendampingan pendidik dan kesepakatan satuan, gagasan tersebut berpotensi dihubungkan dengan kegiatan Studio atau Pojok Literasi.

Ibnu memperlihatkan salah satu kemungkinan kader yang terus belajar, melanjutkan hubungan dengan pesantrennya melalui pengabdian, dan membawa gagasan untuk pendidikan. Pengalaman serta tugasnya perlu terus didengar agar arah pembinaannya bertolak dari kenyataan yang ia jalani.

Maulana: dari Pendidikan Sains ke Literasi

Lintasan lain tampak pada Maulana Prasetyo, alumni MA Nurul Huda Sukaraja dan mahasiswa semester III Program Studi Pendidikan Fisika FIP UNUHA Kampus B di Sukaraja.

Maulana juga menjadi Pembina Pramuka di SDN Sukaraja Dalam. Dalam konteks itulah ia memaparkan krida Gita Pramuka Bahasa, yang menawarkan pengembangan bahasa anak melalui syair lagu dan kegiatan kepramukaan.

Sebagai alumni MA Nurul Huda dan mahasiswa Pendidikan Fisika, Maulana mendekati profil unggulan alumni sekaligus mahasiswa Jalur Pendidikan Sains. Pengalaman Pramuka dan kridanya menambah ruang bagi pengembangan komunikasi, kepemimpinan, serta pendampingan anak.

Dalam rancangan pengembangan, Studio Sains dan Penelitian MA Nurul Huda Sukaraja berpotensi mendukung kecakapan Maulana ke tahap yang lebih maju. Ia dapat dibina untuk membaca bahan sains, menyusun pertanyaan, mencatat pengamatan, menulis, dan menjelaskan pengetahuan bersama guru, dosen, serta siswa.

Pengembangan tersebut juga berpeluang dihubungkan dengan Pojok Literasi Hasan Qolay di MTs Nurul Huda Sukaraja. Adapun SDN Sukaraja Dalam tetap merupakan konteks awal krida Gita Pramuka Bahasa dan tempat Maulana menjalankan peran sebagai Pembina Pramuka.

Dengan demikian, Maulana memperlihatkan bahwa literasi tidak terbatas pada mahasiswa program studi bahasa. Pendidikan sains memerlukan kemampuan membaca, bertanya, menulis, dan mengomunikasikan pengetahuan. Bahasa memberi jalan agar sains dapat dipahami dan dibagikan.

Komitmen Mutu dan Peran Alumni

Arah pengembangan tersebut memperoleh landasan dalam Deklarasi Sistem Mutu Pesantren Kurikulum YPPNH Sukaraja pada 24 Mei 2026.

Naskah deklarasi meneguhkan pesantren sebagai akar sistem pendidikan dan menyebut literasi bersama sanad, sains, tata kelola, digitalisasi, living laboratory, serta keberlanjutan sebagai fondasi pengembangan mutu. Di dalamnya juga terdapat komitmen untuk menghubungkan pesantren, diniyah, asrama, satuan pendidikan, universitas, program studi, pusat, perpustakaan, dan laboratorium.

UNUHA ditempatkan sebagai knowledge engine dan system engine. Peran alumni, masyarakat, dan wali santri juga dikuatkan sebagai bagian dari keberlanjutan perjuangan pesantren.

Komitmen tersebut memberi arah agar gagasan yang lahir dalam kegiatan seperti Pildubas dapat dipertemukan dengan kebutuhan satuan dan pembinaan kader. Dalam rancangan pedoman pusat keunggulan, hubungan UNUHA dan satuan diarahkan sebagai kerja sama dua arah melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Program studi tidak membawahi satuan; kebutuhan dan bentuk kerja sama perlu disepakati bersama.

Merawat Pengetahuan, Menumbuhkan Kader

Bahasa dan literasi juga membuka jalan untuk mengenal kehidupan masyarakat. Istilah tentang tumbuhan, pertanian, air, cerita tempat, dan pengalaman keluarga dapat menjadi bahan belajar bagi santri dan mahasiswa.

Pusaka Kumoring berpeluang mempertemukan kegiatan literasi dengan penutur, pencerita, pegiat budaya, dan bidang keilmuan yang relevan. Pengetahuan yang diperoleh perlu dicatat sumbernya, dipahami konteksnya, dan diperiksa jika digunakan untuk menjelaskan persoalan ilmiah. Kegiatan itu memberi kesempatan kepada peserta untuk belajar menghargai masyarakat sebagai pemilik pengalaman dan pengetahuan.

Seluruh rencana ini perlu dimulai dari kegiatan yang sudah hidup. Penguatan kosakata, muhadharah, pembinaan asrama, Pramuka, pembelajaran di sekolah, serta kegiatan mahasiswa perlu dipetakan bersama: apa yang sudah berjalan, siapa yang terlibat, dukungan apa yang tersedia, dan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Dari sana, krida mahasiswa dapat dipertemukan dengan kebutuhan satuan. Kader Studio dan Pojok Literasi dapat dibina sesuai jenjang. Mahasiswa memperoleh pendampingan kecakapan sekaligus kesempatan berkhidmah. Pusat, layanan, dan program studi mendukung sesuai fungsi serta kesepakatan.

Keberhasilannya tidak cukup dilihat dari banyaknya acara. Kita perlu melihat apakah anak semakin memahami bacaan dan berani bercerita; apakah santri dapat menyampaikan gagasan dengan lebih baik; apakah mahasiswa berkembang dalam pengetahuan, karya, dan pendampingan; serta apakah satuan memperoleh manfaat yang dapat diperiksa.

Dari perhatian terhadap MI Nurul Huda dalam pembinaan calon peserta Pildubas, kita memperoleh contoh bagaimana evaluasi dapat bertemu dengan prakarsa mahasiswa. Dari Ibnu dan Maulana, kita melihat dua lintasan alumni dan mahasiswa yang berpeluang dikembangkan melalui bahasa, sains, budaya, kepramukaan, dan khidmah.

Melalui hubungan yang dirawat antargenerasi, bahasa dan literasi dapat terus tumbuh: dipelajari di sekolah dan diniyah, dibiasakan dalam kehidupan pesantren, dikembangkan di perguruan tinggi, diwujudkan dalam karya, dan diteruskan melalui pembinaan kader.

Semoga dan salam bela bangsa tegak agama!

  • Penulis adalah dosen Keaswajaan PBSI, inisiator Pusat Kajian (Pusaka) Kumoring, Ketua Senat Universitas Nurul Huda dan mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam IAIN Curup. Selain bertugas sebagai Wakil Ketua YPPNH Sukaraja juga Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong dan Wakil Ketua Pengurus Daerah Persatuan Tarbiyah Islamiyah Provinsi Bengkulu.

Eksplorasi konten lain dari Universitas Nurul Huda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca