Berita
MENJAGA AKAR & MELINTASI ZAMAN: REKONSTRUKSI HISTORIS, EKOLOGI PEDAGOGIS TRANSMIGRAN, & TRANSFORMASI KELEMBAGAAN PONDOK PESANTREN NURUL HUDA SUKARAJA
Oleh: DMS. Harby*
SETIAP Oktober dan September, sejarah mempertemukan kita pada tiga titik simpul yang menghentakkan kesadaran kebangsaan dan keagamaan: peringatan Hari Lahir (Harlah) Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Sukaraja (9 September 1980), Hari Santri Nasional (22 Oktober), dan Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober). Konvergensi tri-momentum ini bukanlah sekadar kebetulan penanggalan, melainkan sebuah simfoni sejarah yang merekatkan api taufik perjuangan santri, ikrar pemuda lintas daerah, dan jejak pengabdian nyata lembaga pendidikan Islam di tanah perantauan.
Jika Sumpah Pemuda 1928 menegaskan komitmen kebangsaan untuk bersatu dalam satu tanah air, bangsa, dan bahasa, serta Resolusi Jihad 1945 menggerakkan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan fisik, maka Harlah PPNH Sukaraja hadir sebagai pengejawantahan dari “jihad tata kelola” dan peradaban di era modern. Nurul Huda berdiri di garis depan kedaulatan pendidikan untuk membuktikan bahwa spirit Sumpah Pemuda dan nilai-nilai keagamaan santri mampu berakar kuat di wilayah transmigrasi.
Dalam konteks sosiologis, gelombang transmigrasi warga Jawa ke kawasan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan sejak dekade 1980-an bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga perpindahan identitas, kultur, dan struktur sosial yang membutuhkan institusi penyangga kultural. Dalam bentang alam ini, Belitang berkembang secara unik tidak hanya sebagai pusat produksi pangan nasional, melainkan sebagai sebuah ekologi pedagogis transmigran unggulan. Keberadaan jaringan irigasi teknis, konsentrasi pemukiman transmigran Jawa, serta stabilitas ekonomi agraris menyediakan syarat pemungkin (enabling conditions) bagi lahir dan menjamurnya lembaga pendidikan Islam mandiri dari bawah (bottom-up).
Dalam bentang ekologis yang subur inilah YPPNHS Sukaraja bertunas, tumbuh, dan bertransformasi. Memperingati Harlah PPNH Sukaraja di tengah gelora Hari Santri dan Sumpah Pemuda menjadi momentum tepat untuk merekonstruksi perjalanan lembaga: dari sebuah pesantren salafiyah di pelosok desa hingga berevolusi menjadi jaringan pendidikan transformatif berdaya jangkau luas yang mengintegrasikan satuan pendidikan dari jenjang usia dini hingga Sekolah Pascasarjana.
Belitang sebagai Ekologi Pedagogis Transmigran
Pendidikan Islam di daerah transmigrasi tidak sekadar menjalankan fungsi transfer keilmuan, melainkan tumbuh sebagai motor utama rekayasa sosial dan ketahanan hidup (socio-ecological resilience). Gelombang transmigrasi warga Jawa ke kawasan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan sejak dekade 1980-an bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga perpindahan identitas, kultur, dan struktur sosial yang membutuhkan institusi penyangga kultural.
Dalam bentang alam ini, Belitang berkembang secara unik tidak hanya sebagai pusat produksi pangan, melainkan sebagai sebuah ekologi pedagogis transmigran unggulan. Keberadaan jaringan irigasi teknis, konsentrasi pemukiman transmigran Jawa, serta stabilitas ekonomi agraris menyediakan syarat pemungkin (enabling conditions) bagi lahir dan menjamurnya lembaga pendidikan Islam mandiri dari bawah (bottom-up).
Dalam bentang ekologis yang subur inilah Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda (YPPNHS) Sukaraja bertunas, tumbuh, dan bertransformasi. Berawal dari sebuah pesantren salafiyah di pelosok desa, lembaga ini berevolusi menjadi jaringan pendidikan transformatif berdaya jangkau luas yang mengintegrasikan satuan pendidikan dari jenjang usia dini hingga Sekolah Pascasarjana.
Menelusuri Akar: Sanad Keilmuan Sang Pendiri dan Perintisan Awal (1964–1980)
Kekuatan institusional Nurul Huda bersumber langsung dari kedalaman sanad keilmuan dan niat luhur sang pendiri utama, K.H. Affandi, B.A. (dalam dokumen historis tercatat sebagai A. Afandy / Ipandi). Sebagai putra petani transmigran Jawa di OKU Timur, perjumpaan pendidikan formal dan keagamaannya memadukan tradisi pesantren pesisiran yang kuat dengan iklim akademis perguruan tinggi Syari’ah.
Pertama, Pendidikan Dasar & Pesantren. Mengawali pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Subulussalam (M.I.S.S.) Ponpes Sriwangi Cempaka hingga lulus tahun 1964, beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Madrasah Hidajatul Mubtadi’ien (M.H.M.) Pesantren Lirboyo, Kediri hingga menyelesaikan Tingkat Tsanawiyah VI pada tahun 1970 (1389–1390 H).
Kedua, Pendidikan Tinggi Syari’ah. Keutamaan ilmunya diperdalam di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo, Kediri. Beliau berhasil menempuh jenjang Propaedeuse (1973), Kandidat (1973), Colloqium Ductum (1974), Baccalaureat / Tingkat III (1975), hingga meraih kelulusan Ujian Negara Sarjana Muda Syari’ah pada tahun 1975 dan 1977.
Bekal keilmuan syari’ah dan kepesantrenan tersebut diboyong pulang ke tanah Sumatera Selatan pada tahun 1978. Perintisan awal diawali dengan merangkul para santri melalui pengajian di Desa Trimoharjo. Dinamika perjuangan kemudian membawa K.H. Affandi melakukan hijrah pada September 1980 bersama rombongan 14 santri utamanya—termasuk santri muda Tasdiq—menuju Desa Sukaraja.
Tiga dari mereka menjadi Kelas III Awal. Catatan stambok klasik merinci ikhtiar santri generasi perintis tersebut. Sementara Angkatan 1982–1984 (Kelas II Awal): Diisi oleh 13 santri perintis seperti Dul Kalim (masuk 1981), Sujarwo, Sumadi, Suhadi, Ali Imron, dan Samsul Hadi. Angkatan 1982–1985 (Kelas I Awal): Mencakup 43 santri awal seperti Sugito, Imam Taukit, Ah. Dawam, Ah. Baidowi, Muarif, serta para santri putri seperti Umi Aminah, Komsatun, dan Turiyah.
“Pesantren Kurikulum” dan Pendidikan Transformatif Transmigran
Di tengah tuntutan zaman, K.H. Affandi memformulasikan visi Pesantren Kurikulum. Visi ini menegaskan bahwa keaslian pesantren tidak diukur dari kemegahan fisik, melainkan pada keteguhan pengabdian terhadap Kitab Kuning (kutub at-turaats). Penyelenggaraan pendidikan formal dan adopsi IPTEK bukanlah pelengkap administratif atau ancaman, melainkan dijadikan “perisai” dan instrumen strategis untuk menjamin keberlanjutan tradisi kitab klasik agar tetap relevan dan kompetitif.
Gagasan ini berlanjut menjadi kerangka Pendidikan Transformatif Transmigran. Model ini mengubah cara belajar tradisional (halaqah, sorogan, bandongan) yang kurang fleksibel bagi anak-anak petani transmigran menjadi sistem kelas berjenjang, modul terencana, dan kurikulum terstruktur. Efeknya adalah pembentukan habitus baru.
Pertama, Model Salafiyah Plus: Mempertahankan pengajian kitab klasik (Al-Jurumiyah, Al-Imrithy, Alfiyah Ibnu Malik) menggunakan metode pengantar bahasa Jawa utawi-iki-iku guna merawat kohesi sosial, sembari mengintegrasikan kurikulum formal modern dan inovasi agribisnis (seperti memelopori pola tanam padi dari 1 kali menjadi 2–3 kali setahun di Sukaraja sejak 1981/1982).
Kedua, Kemandirian dan Kepemimpinan Keteladanan. Digerakkan oleh silent leadership pengasuh yang istiqamah mengajar 5 hingga 7 kitab setiap harinya, serta penerapan filosofi “sang semut merawat sarangnya”. Santri dididik bergerak Dari Kitab ke Khidmah—menerjemahkan teks menjadi pengabdian, integritas publik, dan kepemimpinan sosial.
Matriks Evolusi Legalitas dan Model Regenerasi Sirkuler (1988–2026)
Menjawab regulasi badan hukum nasional, YPPNHS terus menyempurnakan Anggaran Dasar Organisasinya. Diresmikan melalui Akta Notaris No. 01 Tahun 1988 (PN Baturaja No. 03/1988) untuk mengesahkan pendirian 01 September 1987 di bawah kepemimpinan Drs. Sholeh Hasan (Pimpinan Umum), K.H. Affandi, B.A. (Wakil I), Abdul Qodir (Sekretaris), dan Mustamar (Bendahara).
Pasca wafatnya K.H. Sholeh Hasan (2008), K.H. Affandi, B.A. memegang pimpinan umum sekaligus menandai alih status STIT menjadi STKIP Nurul Huda (2007). Dituangkan dalam Akta No. 02 Tahun 2009 (SK Menkumham AHU-4274.AH.01.04.Tahun 2009).
Restrukturisasi sekaligus regenerasi kepengurusan pada 2018. Disahkan melalui Akta No. 05 & No. 01 Tahun 2020 (SK Menkumham AHU-0001038.AH.01.05.TAHUN 2020), K.H. Affandi, B.A. ditetapkan sebagai Pembina, Drs. Tasdiq, M.Pd.I. sebagai Ketua Pengurus, dan H. Imam Busyro, S.Pd. sebagai Sekretaris.
Penguatan regenerasi kepengurusan pada 2023. Disahkan lewat Akta No. 11 & No. 05 Tahun 2023 (SK Menkumham AHU-AH.01.06-0015726), memperkuat kepengurusan harian dengan menempatkan Dedy Mardiansyah, M.Pd. sebagai Wakil Pengurus mendampingi K.H. Drs. Tasdiq, M.Pd.I., serta Mukhammad Fathoni, M.Pd.I., sebagai Sekretaris.
Menegaskan penguatan kepemimpinan Unuha sebagai lokomotif penjaminan mutu ekosistem Nurul Huda melalui pengukuhan Mukhammad Fathoni sebagai Rektor 2026-2029. Posisinya digantikan oleh H. Zen Muttaqien, S.Pd.I., MH. Disahkan melalui Akta No. 06 tanggal 27 Agustus 2026 di hadapan Notaris Dr. Heriyono, S.H., M.Kn., dengan memperluas Pasal 2 Anggaran Dasar mencakup Pendidikan Terpadu, Sosial, Kemanusiaan, KBIHU, hingga Keagamaan inklusif. Dinamika ini mencerminkan Model Regenerasi Sirkuler Berbasis Kader Angkatan Awal (Non-Herediter).
Siklus 1 – Pendirian (1980–1986): K.H. Affandi, B.A. peletak dasar ideologis. Siklus 2 – Institusionalisasi (1986–2009): K.H. Drs. Sholeh Hasan memimpin ekspansi sekolah formal berjenjang. Siklus 3 – Konsolidasi & Ekspansi Wilayah (2009–2018): K.H. Affandi, B.A. memimpin penataan dan pembukaan cabang luar daerah.
Siklus 4 – Kaderisasi & Keberlanjutan Akademik (2018–Sekarang): K.H. Drs. Tasdiq, M.Pd.I. (santri pertama angkatan 1978) dilantik memimpin Yayasan pada 18 Juli 2018—memindahkan legitimasi karismatik menjadi kapabilitas kelembagaan profesional tanpa berbasis garis nasab biologis.
Bentang Keragaan Pendidikan Formal YPPNHS (2025/2026)
Lompatan terbesar Nurul Huda dari local hub menjadi ekologi transformatif tecermin pada perluasan cabang dan penetrasi perguruan tinggi. Berdasarkan Bank Data Kelembagaan YPPNHS T.A. 2025/2026, total warga belajar aktif mencapai 3.864 santri dan mahasiswa.
Pertama, Kampus Utama dan Cabang Perwakilan Pesantren. PPNH Sukaraja (Pesantren Pendiri – Berdiri 09/09/1980): Mengelola RA Nurul Huda (1986, Akreditasi B, 74 santri), MI Nurul Huda (1964, Akreditasi A, 332 santri), MTs Nurul Huda (1982, Akreditasi B, 236 santri), MA Nurul Huda (1986, Akreditasi B, 111 santri), dan SMK Nurul Huda Buay Madang (1993, Akreditasi A, 197 santri). Total: 950 santri.
PPNH Tanah Merah – Cabang I (BMR, OKU Timur – Berdiri 2013): Mengelola SMP Terpadu Nurul Huda (2013, Akreditasi B, 359 santri) dan SMA Terpadu Nurul Huda (2013, Akreditasi B, 165 santri). Total: 524 santri. PPNH Martapura – Cabang II (Kotabaru Selatan, OKU Timur – Berdiri 2017): Mengelola SD Al-Qur’aniyah (2021, Akreditasi B, 16 santri) dan SMP Al-Qur’aniyah (2021, Akreditasi B, 51 santri). Total: 67 santri. PPNH Sukamulya – Cabang III (Lempuing Jaya, OKI – Berdiri 2021): Mengelola MI Nurul Huda (2023, terdaftar, 6 santri) dan MTs Nurul Huda (2023, terdaftar, 6 santri). Total: 12 santri.
Kedua, Universitas Nurul Huda (UNUHA). Perguruan tinggi yang meniti evolusi panjang (PTAIS 1997 STIT 1999
STKIP 2007
Universitas 2021) kini membina 2.311 mahasiswa aktif pada 11 program studi. Fakultas Agama Islam (FAI): S1 PAI (1997, Akreditasi Unggul, 266 mahasiswa) & S1 PGMI (2015, Akreditasi Baik Sekali, 316 mahasiswa).
Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP): S1 PBI (2007, Akreditasi B, 126 mahasiswa), S1 PBSI (2007, Akreditasi Baik Sekali, 310 mahasiswa), S1 Pendidikan Ekonomi (2007, Akreditasi Baik Sekali, 307 mahasiswa), S1 Pendidikan Fisika (2007, Akreditasi B, 81 mahasiswa), & S1 Pendidikan Teknologi Informasi (2019, Akreditasi Baik, 326 mahasiswa).
Fakultas Sain dan Teknologi (FST): S1 Sain Pertanian (2021, Akreditasi Baik, 128 mahasiswa), S1 Informatika (2021, Akreditasi Baik, 387 mahasiswa), & S1 Matematika (2021, Akreditasi Baik, 39 mahasiswa). Sekolah Pascasarjana: S2 PAI (2025, Akreditasi Pertama Lamdik, 25 mahasiswa).
Manifesto Gerakan: Ecotechnopreneurship, Asrama, dan Khilafah Nahdliyah
Menyongsong 50 Tahun PPNH Sukaraja (9 September 2030), Nurul Huda menegaskan posisi sebagai pelopor kedaulatan pendidikan, pangan, dan ekonomi melalui manifesto pilar peradaban rancangannya. Pertama, Ecotechnopreneurship Pesantren Batanghari Sembilan. Konsep ini memadukan tiga pilar berupa Eco: Eko-teologi Aswaja dan pelestarian rawa lebak/DAS Komering (imaratul ard). Techno: Penerapan Precision Modern Agriculture & Agribusiness System (PM-AAS) dari IP-200 ke IP-300 serta pengoperasian Laboratorium Sains Pertanian Terpadu. Serta Preneurship: Hilirisasi agribisnis dan kemitraan strategis (seperti sinergi UNUHA, Tani Merdeka Indonesia, dan Pemprov Sumsel).
Kedua, Asrama sebagai Miniatur Negara dan Closed-Loop System. Asrama bertindak sebagai Demand-Side Anchor yang menyerap hasil panen pertanian dan unit usaha pesantren (from santri, by santri, for santri). Asrama juga menjadi Behavioral Finance Lab melalui E-wallet syariah internal untuk membentengi santri dari ancaman pinjol dan judi online.
Ketiga, Kedaulatan Tata Kelola dan Spiritualitas Ayat Seribu Dinar. Kemandirian adalah martabat dan sunnah Rasulullah SAW. Tata kelola terintegrasi dijiwai oleh etos takwa dan tawakal dari Ayat Seribu Dinar (QS. At-Talaq: 2-3), diiringi gelora Mars UNUHA ciptaan DMS Harby: “Universitas Nurul Huda, wadah juang kita. Bela bangsa tegak agama, dari pesantren dan ulama… Dengan Aswaja Annahdliyah, mendidik generasi paripurna.”
Keempat, Khilafah Nahdliyah dan Praksis Ekologis. Khilafah Nahdliyah ditegaskan sebagai paradigma tata kelola (governance) untuk mengurus kemaslahatan publik di dalam bingkai NKRI dan Pancasila. Dalam praksis ekologis, hal ini diwujudkan melalui advokasi penanaman pohon Enau di kawasan Danau Ranau demi menahan erosi, mencegah kekeringan di hilir OKU Timur, dan merawat mandat hifzhul bi’ah.
Kesimpulan: Peradaban Hidup (Living Civilization)
Keunggulan Belitang sebagai ekologi pedagogis transmigran adalah syarat pemungkin bagi tumbuh kembang Nurul Huda. Namun, Nurul Huda tidak berhenti sebagai penerima manfaat lingkungan; ia hadir sebagai katalisator aktif yang mengubah bentang agraris Belitang menjadi pusat peradaban Islam terpadu, inklusif, dan berdaya saing.
Melalui adaptasi selektif (selective adaptation) dan glokalisasi (glocalization)—dengan teguh mempertahankan otoritas kiai, sanad keilmuan, dan pengajian kitab kuning sebagai inti identitas (core identity), sembari mengadopsi tata kelola perguruan tinggi, sains pertanian, dan teknologi informasi sebagai elemen adaptif (periphery)—Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja membuktikan dirinya sebagai sebuah peradaban hidup (living civilization) yang terus mekar dan memberi kemanfaatan luas melintasi zaman.
(Penulis adalah Alumni, Pendiri Pusat Kajian Kumoring, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Ketua Senat Universitas Nurul Huda)
