Berita
Sistem Pesantren Kurikulum Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja: Pengantar untuk Mahasiswa Baru Universitas Nurul Huda
Oleh: Dedy Mardiansyah**
Sebuah lembaga pendidikan yang tidak memerhatikan kualitas mutu lulusan, adalah sebuah kebijakan dan usaha pengembangan pendidikan yang berada dalam kategori sebuah pemborosan, “waste of sources”.
~ Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D., ~
Rangkaian narasi ini disusun sebagai pintu masuk bagi mahasiswa baru Universitas Nurul Huda (UNUHA) untuk memahami makna kehadirannya di Kampus Pesantren. Orientasi Pengenalan Kampus Pesantren (OPKP) tidak hanya memperkenalkan gedung, fakultas, program studi, layanan akademik, atau tata tertib kampus. Lebih mendasar dari itu, OPKP mengajak mahasiswa membaca asal-usul, nilai, arah, dan tanggung jawab pendidikan tinggi yang tumbuh dari perjuangan Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Sukaraja.
UNUHA adalah bagian pendidikan tinggi dari Sistem Pesantren Kurikulum YPPNHS. Sistem ini berakar pada pendidikan diniyah salafiyah (pengajian Al-Qur’an, kitab kuning, sanad, adab, pengasuhan, dan kaderisasi guru diniyah) serta mengembangkan pendidikan formal untuk menjamin keberlanjutan dan daya jangkau kemaslahatannya. Dalam pengembangannya, Sistem Pesantren Kurikulum ditata melalui Sistem Mutu Pesantren Kurikulum (SMPK), yaitu kerangka yang menghubungkan arah pendidikan, layanan, data, penjaminan mutu, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. UNUHA memperluas daya jangkau sistem ini melalui ilmu, riset, profesi, teknologi, tata kelola, serta pengabdian kepada masyarakat.
Empat bagian berikut disusun secara bertahap. Pertama, menjelaskan mengapa UNUHA harus dipahami sebagai Kampus Pesantren. Kedua, menghubungkan kampus dengan sejarah pendidikan transformatif masyarakat transmigran dan perjalanan PPNH Sukaraja sejak 9 September 1980. Ketiga, memperkenalkan peta jalan mahasiswa SPK yaitu dari kitab, ilmu, karya, hingga khidmah. Artikel keempat menjelaskan peran UNUHA sebagai mesin ilmu dan sistem yang memperkuat mutu seluruh ekosistem Pesantren Kurikulum YPPNHS.
Bacalah rangkaian artikel ini bukan sekadar sebagai informasi, melainkan sebagai ajakan untuk menemukan posisi diri. Mahasiswa UNUHA dipanggil bukan hanya untuk menyelesaikan studi, tetapi untuk membangun kompetensi, karakter, dan karya yang kelak dapat dikembalikan kepada pesantren, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Dari santri dan mahasiswa yang belajar dengan sungguh-sungguh, lahir alumni yang mampu memegang amanah. Dari alumni yang berkhidmah, mutu pesantren terus hidup sebagai budaya dan peradaban.
Mengapa UNUHA Harus Dipahami sebagai Kampus Pesantren?
UNUHA tidak lahir sebagai kampus yang kemudian diberi nuansa pesantren. UNUHA bertumbuh dari ikhtiar PPNH Sukaraja untuk menjaga kesinambungan pendidikan salafiyah di tengah perubahan masyarakat. Karena itu, istilah Kampus Pesantren bukan hiasan identitas, melainkan penegasan asal-usul, cara kerja, dan tanggung jawab. Pesantren menyediakan akar yaitu sanad, kitab, Al-Qur’an, adab, disiplin, pengasuhan, dan tradisi khidmah. Universitas memperluas daya jangkau akar itu melalui ilmu modern, riset, profesi, teknologi, tata kelola, serta jejaring akademik. Mahasiswa baru perlu memasuki UNUHA dengan kesadaran bahwa ia tidak datang ke ruang yang kosong dari nilai, tetapi ke bagian pendidikan tinggi dari sebuah ekosistem yang telah dibangun melalui ketekunan para ulama, guru, santri, orang tua, dan masyarakat.
Konsep Pesantren Kurikulum yang menjadi praksis KH. Affandi, BA., menempatkan pendidikan diniyah salafiyah sebagai fondasi, sementara pendidikan formal dijalankan agar fondasi itu berkelanjutan dan menjangkau kehidupan sosial secara luas. Dalam kerangka ini, kampus tidak berdiri di luar pesantren atau menggantikan pesantren. Kampus menjadi ruang penguatan ilmu, pengembangan sumber daya manusia, pengujian gagasan melalui riset, dan penataan sistem agar layanan pendidikan semakin bermutu. Inilah sebabnya UNUHA disebut knowledge engine dan system engine dalam SPK yaitu UNUHA menghimpun kepakaran, laboratorium, perpustakaan, LPM, LPPM, fakultas, program studi, serta mahasiswa untuk menjawab kebutuhan nyata ekosistem YPPNHS.
Menjadi mahasiswa Kampus Pesantren berarti menyatukan kebebasan berpikir dengan adab; prestasi dengan amanah; kecakapan profesional dengan kemaslahatan. Tugas mahasiswa bukan sekadar menyelesaikan SKS, melainkan membangun kecakapan yang kelak dapat dikembalikan kepada pesantren, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Karena itu, orientasi ini mengajak mahasiswa melihat UNUHA sebagai wadah juang yaitu tempat ilmu dipelajari secara serius, karakter dibentuk secara sadar, dan khidmah disiapkan secara terarah.
Dari Sawah Transmigran ke Kampus Pesantren
Kisah Nurul Huda berangkat dari realitas masyarakat transmigran yaitu tanah yang harus diolah, keluarga yang harus diteguhkan, generasi yang harus dididik, dan masa depan yang belum sepenuhnya tersedia. PPNH Sukaraja berdiri pada 9 September 1980 bukan sebagai proyek pendidikan yang hadir di ruang nyaman, melainkan jawaban atas kebutuhan masyarakat petani untuk memperoleh agama, ilmu, dan martabat sekaligus. Dalam keadaan terbatas, pendidikan menjadi jalan membangun daya tahan. Karena itu, jejak sawah, kerja keras, gotong royong, dan ketekunan tidak boleh hilang ketika Nurul Huda telah berkembang menjadi ekosistem pendidikan yang lebih luas.
Transformasi dari pesantren awal menuju jaringan sekolah, madrasah, asrama, pendidikan diniyah, Ma’had Aly, SMK, cabang-cabang pesantren, hingga UNUHA menunjukkan bahwa perubahan yang sejati tidak memutus akar. Formal, nonformal, dan informal bukan tiga dunia yang saling bersaing; ketiganya adalah tiga dimensi pendidikan bagi subjek yang sama. Sekolah atau madrasah memberi jenjang dan layanan akademik; madrasah diniyah memberi penguatan Qur’an, kitab, bahasa, dan keilmuan kepesantrenan; asrama dan pengasuhan membentuk ibadah, disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, serta khidmah. SPK menata ketiganya agar tidak berjalan sendiri-sendiri dan agar data, program, pembiayaan, serta bukti hasil saling terhubung.
Bagi mahasiswa baru, sejarah ini memberi pelajaran bahwa kemajuan tidak lahir dari melupakan asal-usul. Kampus Pesantren harus mampu membaca persoalan hari ini (mutu pembelajaran, literasi, teknologi, ekonomi, lingkungan, keamanan peserta didik) dengan energi yang sama seperti ketika generasi awal membangun dari keterbatasan. Dari sawah transmigran hingga kampus, jalan Nurul Huda adalah jalan pendidikan transformatif yaitu mengangkat martabat melalui ilmu, menjaga agama melalui kaderisasi, dan mengubah kemampuan menjadi khidmah.
Dari Kitab ke Khidmah: Peta Jalan Mahasiswa Sistem Pesantren Kurikulum
‘Dari Kitab ke Khidmah’ bukan ajakan meninggalkan kitab untuk mengejar kegiatan praktis. Frasa ini justru menegaskan urutan yang benar yaitu ilmu yang berakar pada sanad, Al-Qur’an, kitab, dan adab harus berbuah dalam kerja nyata bagi kemaslahatan. SPK dibangun untuk memastikan bahwa nilai pesantren tidak berhenti sebagai slogan, sementara kemajuan akademik tidak berjalan tanpa arah moral. Karena itu, setiap mahasiswa perlu memahami dirinya sebagai bagian dari rantai pendidikan yang lebih panjang daripada masa kuliahnya sendiri.
Ekosistem YPPNHS memiliki enam mesin yang saling melengkapi. Sukaraja menguatkan sanad dan kaderisasi; Martapura mengembangkan Qur’anic Science; Tanah Merah memperkuat bahasa dan literasi; Sukamulya menjalankan integrasi serta perluasan; SMK Nurul Huda Buay Madang mengembangkan teknologi-vokasi dan pendampingan operasional; UNUHA menjadi mesin ilmu dan sistem. Peta ini bukan pembagian wilayah yang kaku, melainkan cara agar setiap keunggulan tumbuh fokus tanpa terputus dari keunggulan lainnya. Dalam perspektif SPK, pusat keunggulan bukan gedung atau struktur birokrasi baru, tetapi organisasi kinerja yang menghubungkan masalah, baseline, target, pemilik proses, kegiatan, anggaran, bukti, hasil, evaluasi, dan keputusan.
Mahasiswa dapat mulai mengambil peran melalui langkah yang sederhana tetapi terukur yaitu belajar dengan tertib, membangun portofolio, terlibat dalam riset atau pengabdian yang etis, mendampingi adik kelas bila diberi mandat, serta mengubah pengetahuan menjadi karya dan layanan. Khidmah bukan pekerjaan seremonial dan bukan eksploitasi tenaga mahasiswa. Ia harus dibimbing, memiliki batas tugas yang jelas, dihargai, aman, dan menghasilkan pembelajaran. Dengan demikian, peta jalan mahasiswa SPK adalah perjalanan dari menerima ilmu, mengolahnya dengan disiplin, membuktikannya dalam karya, lalu mengembalikannya kepada masyarakat.
UNUHA sebagai Mesin Ilmu dan Sistem Pesantren Kurikulum
UNUHA memiliki peran khas di dalam SPK. Universitas bukan sekadar salah satu unit pendidikan dalam Yayasan, melainkan simpul yang menguatkan seluruh ekosistem melalui kepakaran, riset, pengabdian, pengembangan pembelajaran, pengelolaan data, serta penjaminan mutu. Peran ini penting karena sekolah, madrasah, pesantren, asrama, dan cabang-cabang YPPNHS menghadapi kebutuhan yang terus berkembang yaitu mutu guru, literasi dan numerasi, laboratorium, kurikulum, keselamatan peserta didik, teknologi pembelajaran, tata kelola anggaran, serta keberlanjutan kader dan alumni.
Dokumen Induk SPK menegaskan bahwa kontribusi UNUHA harus dibuat eksplisit, ditugaskan, dianggarkan, dan diukur. Kegiatan yang baik belum cukup bila tidak menjawab masalah yang telah dibaca dari data dan tidak meninggalkan bukti perubahan. Karena itu, laporan universitas perlu menghubungkan satuan dampingan, dosen dan mahasiswa yang terlibat, masalah yang ditangani, kegiatan, keluaran, perubahan indikator, pembiayaan, publikasi, dan tindak lanjut. Cara kerja ini menjaga agar Tridharma tidak berhenti sebagai daftar kegiatan, melainkan menjadi proses perbaikan berkelanjutan yaitu identifikasi, refleksi, benahi, rencana, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan tinjauan manajemen.
Mahasiswa merupakan bagian penting dari mesin ilmu dan sistem ini. Mereka bukan objek kegiatan, melainkan calon peneliti, pendidik, profesional, penggerak masyarakat, dan alumni. Namun keterlibatan mahasiswa harus selalu berdasarkan kompetensi, pendampingan, perlindungan, serta tujuan belajar yang jelas. Ketika mahasiswa belajar mengumpulkan data secara jujur, menyusun laporan, mengembangkan media, mengajar dengan reflektif, atau membantu kegiatan pengabdian, ia sedang mempraktikkan budaya mutu. Dari budaya seperti inilah UNUHA dapat menunaikan amanahnya sebagai Kampus Pesantren yang berilmu, teratur, dan berdampak. Selamat memasuki Kampus Pesantren Universitas Nurul Huda. Bela Bangsa Tegak Agama dari Pesantren dan Ulama!
- Disampaikan pada Orientasi Pengenalan Kampus Pesantren (OPKP) Universitas Nurul Huda Tahun Akademik 2026/2027 di Auditorium Laboratorium Sains Pertanian Terpadu Universitas Nurul Huda. Penulis Ketua Senat Universitas Nurul Huda.
