← Kembali
Berita

Membangun Sarang Peradaban: Simfoni Kitab Kuning dan Kurikulum di PPNH Sukaraja

14 April 2026 Nurul Huda Media Center 3 menit baca Berita

Oleh: DMS. Harby*

SEBUAH refleksi filosofis dari postingan akun Facebook Yandi Yandi pagi Selasa, 14 April 2026, ini mengingatkan Kita bahwa pencapaian besar bukanlah hasil kerja semalam. Ia membutuhkan proses panjang, sinergi pemangku kepentingan, dan yang paling fundamental: autentisitas.

Dalam lanskap pendidikan Islam, konsep “riil dan apa adanya” ini mewujud nyata pada kepemimpinan Abah KH. Affandi dalam membesarkan Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Sukaraja.

Kitab Kuning sebagai Ruh “Pesantren Kurikulum”

Bagi Abah, keaslian sebuah pesantren tidak diukur dari kemegahan arsitekturnya, melainkan pada rigiditas pengabdiannya terhadap Kitab Kuning. Beliau menggagas visi Pesantren Kurikulum. Sebuah model institusi yang tetap berakar pada pengajian kitab klasik, namun adaptif terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Dalam pandangan Beliau, penyelenggaraan pendidikan formal (kurikulum) bukanlah sekadar pelengkap administratif. Justru, kurikulum formal diadopsi sebagai instrumen strategis untuk menjamin keberlanjutan pengajian kitab kuning itu sendiri. Dengan kata lain, IPTEK adalah “perisai” agar tradisi intelektual Islam tetap relevan dan kompetitif di tengah tuntutan zaman.

Kepemimpinan Berbasis Keteladanan

Menjaga prioritas kitab kuning di tengah padatnya jadwal formal bukanlah perkara mudah. Abah KH. Affandi menjawab tantangan ini bukan dengan instruksi lisan, melainkan melalui istiqomah personal.

Hingga saat ini, beliau masih mengasuh langsung 5 sampai 7 kitab setiap harinya. Disiplin ketat yang beliau terapkan pada diri sendiri adalah bentuk silent leadership yang paling efektif. Ketika sang pengasuh menunaikan tugas mengajar sesuai jadwal tanpa kompromi, beliau sedang mentransfer pesan kepada para santrinya bahwa mengaji adalah napas utama pesantren. Keteladanan inilah yang menyatukan keunggulan tradisionalitas dengan keteraturan sistem modern.

Filosofi Semut dan Sarangnya

Mengacu pada analogi semut: “Sang semut harusnya lebih memperhatikan sarangnya masing-masing, karena ia adalah pemilik dan paham maksud ia membuat sarang.” Abah adalah “sang semut” yang sangat memahami filosofi dasar pendirian PPNH Sukaraja.

Beliau tidak terdistraksi oleh tren luar yang hanya mengejar citra permukaan. Fokus beliau adalah merawat “sarang” keilmuan ini agar tetap kokoh secara internal. Beliau memahami bahwa untuk melindungi isi sarang (warisan ulama), dinding-dindingnya (sistem formal) harus dibangun secara mandiri, profesional, dan berdaulat.

Regenerasi Keikhlasan Sejak 1978

Kepemimpinan sejati diuji pada kemampuannya menyiapkan pengganti. Ketulusan Abah terlihat dari proses regenerasi yang dilakukan secara organik dan berbasis “sanad” pengabdian.

Puncaknya pada tahun 2018, Abah menyerahkan pucuk kepengurusan Yayasan kepada Ustadz Drs. H. Tasdiq, M.Pd.I., santri pertama yang beliau asuh sejak tahun 1978 di Desa Trimoharjo. Ini bukan sekadar suksesi jabatan, melainkan penyerahan amanah kepada sosok yang telah “matang” dalam didikan beliau selama empat dekade.

Bahkan, sebagai Ketua Badan Pembina Yayasan, Abah sejak awal telah sangat ikhlas untuk juga menyerahkan tugas itu kepada para calon penerusnya. Hanya tinggal persoalan teknis tentang kapan kesiapan mereka saja yang butuh terkonfirmasi.

Laboratorium yang Hidup

Kepemimpinan Abah KH. Affandi adalah bukti bahwa integritas tidak mengenal titik jenuh. Dengan memadukan ritme mengaji 5 hingga 7 kitab sehari dan keberanian melepas jabatan formal, beliau telah membangun model pendidikan yang berakar kuat (salafiyah), namun berpucuk tinggi (modernitas).

PPNH Sukaraja kini berdiri tegak sebagai “sarang” yang autentik. Sebagai sebuah tempat di mana santri ditempa untuk menguasai teknologi tanpa sedikit pun kehilangan jati diri sebagai penjaga Kitab Kuning. Tentu saja lengkap dengan pendampingan langsung dari figur sentralnya!

  • Penulis adalah DT PS PBSI FIP Unuha, Pendiri Pusat Kajian Komering Unuha, Mahasiswa S3 PAI IAIN Curup dan Wakil Ketua PD PERTI Provinsi Bengkulu.

Eksplorasi konten lain dari Universitas Nurul Huda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca