Berita
Masa Depan NU, NU Masa Depan, dan Legasi Gus Dur
Oleh: DMS. Harby*
PERHELATAN akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi titik nadir perenungan sekaligus batu loncatan peradaban bagi umat Islam terbesar di Indonesia.
Ketika kita menatap ke depan (menyongsong Muktamar Ke-35 NU) diskursus mengenai arah organisasi ini tidak bisa dilepaskan dari dua pilar fundamental yang saling mengunci yaitu Masa Depan NU dan NU Masa Depan. Dua frasa ini bukan sekadar permainan kata.
“Masa Depan NU” menantang kita untuk membaca zaman, melihat bagaimana NU menjawab disrupsi global, kemajuan teknologi, krisis geopolitik, hingga ketimpangan ekonomi digital.
Dalam praktiknya, respons eksternal ini diterjemahkan melalui gerakan nyata seperti pengembangan ekosistem ekonomi pesantren berbasis teknologi finansial, digitalisasi transaksi wakaf, dan pemberdayaan UMKM Nahdliyin agar tidak tertinggal dalam pusaran ekonomi digital.
Sementara “NU Masa Depan” menuntut introspeksi ke dalam: bagaimana tata kelola organisasi dibenahi secara transparan dan berbasis data, kapasitas sumber daya manusia ditingkatkan, serta sistem kaderisasi diperbarui agar tetap relevan tanpa tercerabut dari akarnya.
Namun, membicarakan masa depan NU tidak akan pernah utuh tanpa menengok ke belakang, menatap cermin sejarah pada era kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 1984–1999.
Bagi NU, era Gus Dur adalah puncak keemasan di mana visi besar tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjelma menjadi laku praksis yang radikal dan membumi. Keputusan monumental mengembalikan NU ke Khittah 1926 adalah tindakan nyata melepaskan diri dari kungkungan politik praktis demi merawat kemandirian umat.
Di era itu pula, Gus Dur mengartikulasikan Islam Nusantara bukan sekadar konsep teologis, melainkan sebagai praksis kebudayaan yang hidup, sebuah jembatan dialog yang merangkul keragaman dan melampaui sekat-sekat politik identitas. Relevansi pandangan ini sangat mendesak hari ini, di tengah derasnya arus polarisasi digital dan ujaran kebencian di ruang maya yang mengancam keutuhan bangsa.
Kombinasi antara otoritas kultural pesantren dan wawasan kosmopolitan modern yang melekat pada diri Gus Dur menjadikan capaian era tersebut sebuah anomali sejarah yang unik lagi sulit, bahkan nyaris tidak mungkin, untuk direplikasi secara persis oleh figur atau era manapun.
Oleh karena itu, momentum Muktamar Ke-35 NU harus dibaca sebagai sebuah panggilan sejarah yang mendesak. Siapapun yang memegang tampuk kepengurusan kelak, dan bagaimanapun bentuk transformasi struktural yang dirancang, jika meninggalkan warisan moral, independensi, dan keberpihakan sosial yang telah diletakkan oleh Gus Dur, maka organisasi ini dikhawatirkan akan berjalan sesat arah.
Menatap horizon organisasi pasca-Muktamar, tantangan terbesar NU bukanlah sekadar bagaimana beradaptasi dengan kecerdasan buatan, digitalisasi birokrasi, atau penguatan ekonomi kerakyatan semata. Tantangan hakiki NU terletak pada konsistensi penjagaan kompas moral yang diwariskan oleh para pendirinya dan diejawantahkan secara radikal oleh Gus Dur.
Ketika modernisasi struktural berjalan cepat, ada risiko besar di mana ruh kerakyatan, keberpihakan pada kaum marjinal, dan independensi kritis tergerus oleh pragmatisme kekuasaan modern. Oleh sebab itu, integrasi antara kecakapan manajerial era modern dan keteguhan prinsip kemanusiaan universal mutlak diperlukan agar institusi ini tidak sekadar menjadi raksasa administratif yang kehilangan jiwa.
Lebih jauh lagi, transformasi kepengurusan ke depan harus mampu menerjemahkan kembali semangat pembebasan yang dahulu digelorakan Gus Dur ke dalam konteks ketimpangan sosial-ekologis hari ini. Isu-isu seperti keadilan agraria, krisis iklim yang menghantam wilayah pedesaan basis Nahdliyin, hingga perlindungan hak-hak kelompok rentan di tengah polarisasi digital harus menjadi agenda praksis utama perkumpulan. NU tidak boleh memilih jalan aman menjadi menara gading yang elitis, melainkan harus tetap hadir sebagai tenda besar yang menaungi seluruh elemen bangsa dengan napas Islam wasathiyah yang otentik.
Menghadapi kompleksitas abad ke-21 yang bergerak tanpa henti, NU dituntut untuk tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, namun juga tidak boleh kehilangan akar tradisinya. Setiap kebijakan strategis yang lahir dari ruang-ruang permusyawaratan tertinggi harus diuji kembali dengan nilai dasar kemaslahatan publik dan keadilan substansial.
Jika modernisasi organisasi berjalan seiring dengan penjagaan ketat terhadap independensi politik, maka NU akan mampu menjawab berbagai krisis multidimensional secara bermartabat. Di sinilah letak urgensi dari penyatuan visi internal dan eksternal, di mana kekuatan moral pesantren berpadu harmonis dengan instrumen tata kelola modern yang akuntabel.
Transformasi struktural yang berkelanjutan juga menuntut perombakan radikal dalam cara pandang kaderisasi tingkat lokal hingga pusat. Di lingkungan Universitas Nurul Huda (Unuha), praksis ini diwujudkan melalui integrasi kurikulum pesantren dan perguruan tinggi yang dirancang secara sistematis, memastikan para kader NU tidak hanya matang dan mendalam dalam mengkaji kitab-kitab klasik (paham kitab), tetapi juga terlatih menguasai literasi data, analitik digital, dan metodologi riset kontemporer (paham data).
Dengan cara pandang yang komprehensif ini, jaringan struktural NU dari tingkat Pengurus Besar hingga Pengurus Ranting akan bertransformasi menjadi simpul-simpul pelayanan sosial dan intelektual yang responsif, tangguh, dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan politik sesaat.
Di tengah ikhtiar besar merajut masa depan organisasi ini, perguruan tinggi di lingkungan NU memegang peran strategis sebagai dapur intelektual dan kawah candradimuka pengkaderan.
Unuha berada pada posisi unik dan kontekstual untuk menerjemahkan nilai-nilai dasar perjuangan Islam wasathiyah serta warisan pemikiran progresif Gus Dur ke dalam ekosistem akademik yang nyata, terbukti melalui berbagai capaian riset aplikatif dan program pengabdian masyarakat yang langsung menyentuh problem riil di akar rumput.
Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berakar di daerah, Unuha telah membuktikan perannya bukan sekadar sebagai menara gading akademis, melainkan motor penggerak transformasi kultural yang melahirkan sarjana-sarjana Nahdliyin cerdas, adaptif, dan berintegritas tinggi.
Dampak kehadiran institusi seperti Unuha dalam lanskap gerakan NU masa depan akan sangat menentukan kualitas human capital Nahdliyin di tingkat regional maupun nasional. Ketika perguruan tinggi mampu merespons kebutuhan zaman seperti integrasi teknologi digital, penguatan ekonomi pesantren, dan literasi kebangsaan yang inklusif, maka ia tidak sekadar mencetak lulusan pencari kerja, melainkan melahirkan agen-agen perubahan sosial yang mandiri. Perguruan tinggi NU dituntut untuk keluar dari rutinitas administratif akademik, bertransformasi menjadi pusat inkubasi gagasan kritis, dan menjadi mitra strategis umat dalam menyelesaikan problem-problem struktural seperti kemiskinan dan ketertinggalan pendidikan.
Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan strategis jam’iyah secara nasional dan gerakan transformatif di tingkat perguruan tinggi seperti Unuha harus terus dirajut secara organik. Perguruan tinggi harus menjadi penjaga gawang pemikiran kritis yang meneruskan tradisi intelektual kiai-kiai sepuh dan keberpihakan sosial ala Gus Dur dalam bingkai keilmuan kontemporer. Dengan mengintegrasikan keunggulan akademik, riset berbasis kebutuhan umat, dan keteguhan kompas moral, kontribusi dunia pendidikan tinggi NU akan memastikan bahwa langkah organisasi ke depan tidak hanya kokoh secara struktural, tetapi juga kaya secara substansi peradaban.
Dalam konteks praksis ekologis, pergerakan NU dan jejaring institusi pendidikannya (terutama Unuha) harus berada di garda terdepan menerjemahkan teologi lingkungan ke dalam aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat. Tantangan hari ini semakin mendesak tatkala melihat gejala nyata di lapangan. Laju sedimentasi dan ancaman pendangkalan Danau Ranau kini kian mengkhawatirkan akibat masifnya alih fungsi lahan serta deforestasi di daerah tangkapan air. Hal yang secara langsung memicu krisis ekologis dan ancaman kekeringan bagi kawasan pertanian di hilir seperti OKU Timur sebagai lumbung pangan.
Menghadapi situasi genting ini, menginisiasi gerakan reboisasi berbasis pohon Enau (Ranau) di kawasan Danau Ranau demi menjaga ketahanan ekosistem Sungai Komering dan DAS Batanghari Sembilan adalah sebuah keharusan sejarah. Praksis dari kerangka Maqashid Syariah. Ikhtiar ini merupakan perwujudan nyata prinsip hifzhul bi’ah (penjagaan lingkungan hidup) sebagai bagian dari pilar perlindungan jiwa, akal, dan harta umat.
Danau Ranau bukan sekadar bentang alam pariwisata atau sumber penghidupan sektor perikanan darat semata, melainkan jantung hidrologis vital yang mengalirkan air bersih serta menopang kehidupan agraris jutaan warga di hilir. Melalui kolaborasi riset akademis, pengabdian masyarakat, dan mobilisasi kader mahasiswa, Unuha memiliki peluang emas untuk memimpin gerakan penanaman enau yang memiliki akar kuat pengikat tanah, penahan erosi tebing, sekaligus penyedia cadangan air dan sumber ekonomi kerakyatan (nira).
Lebih jauh lagi, Unuha tampil sebagai model praktik baik pesantren yang menggerakkan advokasi kawasan pesisir dan daerah aliran sungai Batanghari Sembilan melalui implementasi Tridharma Perguruan Tingginya menjadi sebuah terobosan progresif yang barangkali menjadi satu-satunya di Sumatera Bagian Selatan bahkan di tingkat nasional. Dengan demikian, ikhtiar ekologis ini tidak hanya menyelamatkan kelestarian alam dan merawat mandat kekhalifahan di bumi, tetapi juga membuktikan bahwa perguruan tinggi NU hadir secara nyata menyelesaikan problem struktural umat dari hulu hingga hilir.
Akhirnya, Muktamar Ke-35 NU harus menjadi momentum pemurnian niat kolektif untuk mengembalikan organisasi ini sebagai lokomotif peradaban umat yang berdaulat secara moral, mandiri secara ekonomi, dan progresif secara intelektual. Obor yang dinyalakan oleh para ulama salaf dan diterangi secara terang benderang oleh Gus Dur tidak boleh dibiarkan redup hanya karena terjebak dalam kepentingan golongan sesaat. Dengan merawat warisan pemikiran dan laku praksis tersebut, Nahdlatul Ulama bukan hanya akan memiliki masa depan yang gemilang, tetapi juga akan terus menjadi penyelamat arah bagi perjalanan bangsa Indonesia di kancah global.
- DMS. Harby adalah Dosen PBSI FIP, Pendiri Pusat Kajian Kumoring dan Ketua Senat Unuha. Selain inkubator dan fasilitator kaderisasi GMNU OKU Timur, alumnus PD PKPNU Angkatan III PCNU Rejang Lebong ini Wakil Ketua Bidang Mitigasi Bencana DPD TMI OKU Timur dan Wakil Ketua PD PERTI Provinsi Bengkulu. Kini tengah studi Doktoral PAI IAIN Curup.
