← Kembali
Berita

Mandiri adalah Merdeka: Pesantren di Garis Depan Kedaulatan Pendidikan (Refleksi Agustusan, Maulidan & Harlah XLVI PPNH Sukaraja)

25 Agustus 2026 Nurul Huda Media Center 9 menit baca Berita

Oleh: DMS. Harby*

Kemerdekaan, bagi banyak orang, mungkin terhenti pada ingatan kolektif tentang bebasnya negeri ini dari belenggu kolonialisme fisik di masa silam. Namun, bagi dunia pendidikan (khususnya perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang berakar pada tradisi pesantren) kemerdekaan memiliki dimensi yang jauh lebih dalam, menantang, dan berkelanjutan. Merdeka adalah kedaulatan penuh untuk menahkodai kapal pendidikan sendiri, menentukan arah masa depan tanpa harus kehilangan kendali atas misi suci keagamaan, nilai-nilai kemasyarakatan, dan tanggung jawab peradaban.

Agustus dan September tahun ini bagi keluarga besar Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda (YPPNH) Sukaraja bukanlah sekadar penanggalan. Ini adalah sebuah konvergensi sejarah yang luar biasa yaitu momentum Kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Hari Lahir (Harlah) PPNH Sukaraja yang berakar sejak 9 September 1980. Ketiganya bersenyawa dalam satu spirit yang harus kita pegang teguh yaitu Mandiri adalah Merdeka. Narasi ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah manifestasi dari perjuangan panjang untuk mendefinisikan kembali apa artinya menjadi lembaga pendidikan Islam di tengah arus modernitas yang deras.


Kemandirian sebagai Watak, Martabat, dan Sunnah Rasulullah SAW

Sering kali, kemandirian disalahpahami sekadar sebagai target angka di neraca keuangan atau kemampuan sebuah lembaga untuk membiayai operasional bulanannya. Namun, bagi kita, kemandirian jauh melampaui statistik. Kemandirian adalah watak. Ia adalah cerminan dari martabat sebuah institusi yang menolak untuk bergantung pada belas kasihan pihak lain yang berpotensi mendikte arah perjuangan kita.

Kemandirian yang sejati berakar dari teladan agung Baginda Rasulullah SAW, yang momentum Maulid-nya kita peringati bersamaan dengan denyut nadi Harlah pesantren kita. Nabi Muhammad SAW bukanlah pemimpin yang berpangku tangan; beliau adalah prototipe pemimpin mandiri (self-reliance), pedagang yang jujur, piawai mengelola modal, dan memiliki integritas yang tak terbeli sejak usia muda. Kemandirian Nabi dalam berbisnis dan memimpin bukanlah untuk menumpuk kekayaan, melainkan untuk menegakkan dakwah Islam di atas kaki sendiri, menjaga kehormatan (izzah) Islam agar tidak mudah didikte oleh kepentingan apa pun.

Ketika model Ecotechnopreneurship Pesantren Komering kita perjuangkan di Universitas Nurul Huda (Unuha), kita sedang menerjemahkan sunnah Rasulullah SAW ke dalam konteks kontemporer. Kita mendidik santri dan mahasiswa untuk bertani, berteknologi, dan berwirausaha, menjadikan bumi Komering sebagai ladang pengabdian yang produktif. Sebagaimana ditegaskan dalam bait Mars Unuha yaitu “Universitas Nurul Huda, wadah juang kita. Bela bangsa tegak agama, dari pesantren dan ulama.”

Ini adalah manifesto bahwa kemandirian kita adalah untuk pengabdian, bukan keangkuhan. Kita mandiri agar kita bisa berdiri tegak dalam membela bangsa dan menegakkan agama.


Tata Kelola: Benteng Kedaulatan dan Transformasi Organisasi

Kedaulatan tata kelola yang kita bangun melalui sistem perbendaharaan terintegrasi dan akuntansi tersegmentasi bukan sekadar teknik administrasi. Ini adalah bentuk manifestasi dari karakter yang disiplin dan akuntabel. Kita meyakini bahwa amanah yang besar harus dikelola dengan sistem yang besar dan terukur.

Perjalanan panjang ini terwujud nyata dalam ekosistem Bank Data Kelembagaan Pendidikan Formal YPPNH 2025/2026 yang menaungi total 3.864 peserta didik di seluruh satuan pendidikan. Berakar dari rintisan pesantren pendiri di Sukaraja pada 9 September 1980, yayasan ini telah berkembang secara organik menaungi berbagai jenjang: mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan SMK di Sukaraja, hingga perluasan ke cabang-cabang seperti di Tanah Merah (Cabang I), Martapura (Cabang II), dan Sukamulya (Cabang III), serta puncaknya di Universitas Nurul Huda.

Transformasi kelembagaan Unuha sendiri (bermula dari PTAIS (1997), STIT (1999), STKIP (2007), hingga alih status menjadi universitas pada tahun 2021) membuktikan bahwa evolusi organik memerlukan struktur yang kokoh dan berkelanjutan. Saat ini, Unuha mengelola tiga fakultas (Fakultas Agama Islam, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sains dan Teknologi) serta Sekolah Pascasarjana Program S2 PAI yang baru berdiri pada tahun 2025. Dengan total mahasiswa Unuha mencapai 2.311 orang dari berbagai program studi (termasuk prodi unggulan seperti S1 PAI yang telah terakreditasi Unggul) skala ini menuntut tata kelola yang terintegrasi dan presisi.

Titik balik penting dalam sejarah modern institusi ini terjadi pada tahun 2018 melalui kebijakan regenerasi strategis oleh kiai pendiri sekaligus pengasuh PPNH Sukaraja, KH. Affandi, BA., yang mempercayakan kepemimpinan operasional Yayasan kepada Drs. H. M. Tasdiq, M.Pd.I., sementara kesinambungan strategis tetap dijaga. Langkah ini mengonversi legitimasi kharismatik menjadi kapabilitas kelembagaan yang profesional. Ketika Unuha mampu membiayai riset, pengembangan kapasitas dosen, dan pembangunan infrastruktur fisik dengan keringat dan kemandirian institusional, Unuha sedang menunjukkan kepada dunia bahwa karakter lembaganya adalah karakter yang berdaulat.

Unuha merdeka untuk menentukan prioritas riset, merdeka untuk memilih mitra strategis yang memiliki visi selaras, dan merdeka dari ketergantungan finansial yang mengikat. Inilah esensi dari kedaulatan pendidikan yaitu saat institusi mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri, menjaga marwah ibu pertiwi sebagaimana lirik Marsnya, “Dengan ilmu serta bakti, junjung marwah ibu pertiwi.”


Literasi Keuangan Syariah: Integritas dan Kemerdekaan Intelektual

Bagi Unuha, literasi keuangan syariah bukan sekadar teknis akuntansi, melainkan perwujudan integritas diri. Memahami hifz al-mal (menjaga harta) sebagai sebuah amanah adalah bentuk kejujuran intelektual yang paling nyata. Kepribadian mandiri lahir dari kesadaran bahwa mengelola harta umat dengan amanah adalah wujud kesalehan profesional. Inilah kemerdekaan intelektual; sebuah kesadaran penuh bahwa menjadi mandiri adalah konsekuensi logis dari sikap menjaga kehormatan diri.

Di tengah tantangan literasi keuangan syariah nasional yang memerlukan penguatan kapabilitas organisasi, Unuha menolak untuk terperosok dalam jebakan “bodoh finansial”. Dengan literasi yang komprehensif (meliputi pengetahuan akad, keterampilan penganggaran, sikap kehati-hatian (prudence), dan rutinitas kelembagaan) Unuha merdeka untuk mengambil keputusan strategis yang berbasis data dan analisis risiko. Hal ini menyatu dengan nafas Aswaja Annahdliyah yang Unuha pegang, sebagaimana termaktub dalam Mars: “Dengan Aswaja Annahdliyah, mendidik generasi paripurna, demi kemaslahatan bersama, mengembangkan wirausaha.”


Manifesto Spiritual: Ayat Seribu Dinar

Di balik setiap gerak langkah pembangunan dan inovasi manajerial, terdapat satu napas spiritual yang menjadi penggerak utama: Ayat Seribu Dinar (QS. At-Talaq: 2-3). Unuha tidak melihat ayat ini sebagai “jimat” keberuntungan instan, melainkan sebagai manifesto kepribadian yang menjiwai etos kerja.


“Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja, wa yarzuq-hu min haitsu la yahtasib. Wa man yatawakkal ‘alallahi fa huwa hasbuh. Innallaaha baalighu amrih, qad ja’alallahu likulli syai’in qadra.”

Unuha menempatkan Ecotechnopreneurship sebagai ikhtiar profesional yang rasional, namun Unuha sadar sepenuhnya bahwa hasil akhir adalah hak prerogatif Allah. Unuha percaya bahwa ketika sivitasnya bertakwa dengan menjaga kejujuran di setiap sen yang dikelola, Allah menjanjikan makhraja (jalan keluar dari setiap kebuntuan manajemen dan kesulitan birokrasi). Ketika sivitasnya bertawakal, Allah mencukupkan segalanya. Dan yang paling menenangkan, Unuha sadar bahwa Innallaaha baalighu amrih; Allah pasti menyampaikan urusan-Nya, dan setiap jerih payah serta ikhtiar pendidikan sivitasnya telah ditetapkan ukurannya oleh-Nya (qad ja’alallahu likulli syai’in qadra).

Inilah sintesis kekuatan Unuha yaitu perpaduan antara etos kerja manajerial yang modern, keteguhan spiritual Ayat Seribu Dinar, dan keteladanan sunnah Rasulullah SAW.


Peradaban Komering: Visioner, Agraris, dan Berkelanjutan

Menuju masa depan, khususnya dalam proyeksi menyongsong 50 Tahun PPNH Sukaraja, kita melihat almamater kita ini bukan sekadar tempat belajar konvensional, melainkan pusat peradaban agraris yang berdaya di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Mengelola jejaring pendidikan dari RA hingga Pascasarjana dengan ribuan santri dan mahasiswa, konsep Ecotechnopreneurship Pesantren Komering kita adalah tentang bagaimana agama, teknologi, ekologi (ekoteologi Aswaja), dan ekonomi bertemu dalam satu titik temu yaitu kemaslahatan masyarakat agraris.

NH mendidik santri dan mahasiswa untuk tidak hanya paham ilmu keagamaan (tafaqquh fiddin), tetapi juga menguasai teknologi pertanian presisi, manajemen bisnis syariah, dan pelestarian lingkungan di sepanjang Daerah Aliran Sungai Komering. Pesantren yang mandiri akan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi menjadi pencipta kerja (job creator). Inilah kontribusi nyata NH bagi Indonesia (membangun kedaulatan bangsa dimulai dari desa, dari rahim pesantren yang berdaulat).


Penutup: Menjaga Api Perjuangan di Garis Depan Kedaulatan

Melalui konvergensi Tri-Momentum (Kemerdekaan Republik Indonesia, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Harlah PPNH Sukaraja) kita menegaskan kembali posisi historis dan ideologis kita yaitu NH adalah pesantren yang berdiri di garis depan kedaulatan pendidikan.

NH merdeka dalam prinsip karena tidak bergantung pada selain Allah, dan NH kaya akan keberkahan karena menjadikan Ayat Seribu Dinar serta sunnah Rasulullah sebagai napas tata kelola. NH tidak mencari “seribu dinar” sebagai tujuan akhir; NH mengejar keberkahan dari takwa. Karena NH tahu, bagi institusi yang berkepribadian mandiri, berserah diri, dan merdeka dalam prinsip, rezeki dan pertolongan akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Mari kita lanjutkan estafet perjuangan para pendiri sejak 1980. Mari kita terus membangun bumi Komering dengan cahaya ilmu yang tak pernah padam. Dengan disiplin tata kelola, literasi yang kuat, dan tawakal yang tiada henti, insya Allah, kita akan sampai pada tujuan mulia yang telah Allah tetapkan. Sebagaimana gemuruh semangat yang selalu kita gelorakan yaitu “UNUHA jaya, UNUHA jaya, untuk Indonesia! UNUHA jaya, UNUHA jaya, dari Bumi Sriwijaya!” Selamat Merayakan Kemerdekaan RI, Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Menyongsong Harlah PPNH Sukaraja! Mandiri dalam prinsip, Merdeka dalam jiwa, Berserah dalam doa.

  • Penulis adalah Mahasiswa Program S3 PAI Pascasarjana IAIN Curup, Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang dan Wakil Ketua PD PERTI Provinsi Bengkulu. Juga Dosen PBSI FIP, Inisiator Pusat Kajian Kumoring dan Ketua Senat Universitas Nurul Huda.

Model Regenerasi Sirkuler Berbasis Kader Angkatan Awal

Regenerasi di YPPNHS bukan diartikan sebagai pergantian rutin jabatan, melainkan sebagai perpindahan mandat kepemimpinan karismatik (Abah) kepada kepemimpinan kader-institusional (Santri Angkatan I), dengan tujuan menjaga kesinambungan ideologi Pesantren Kurikulum. Pola kepengurusan YPPNHS bersifat Sirkuler Non-Herediter, tidak linear dari Ayah ke Anak.

Siklus 1 – Pendirian (1980-1986): Abah KH. Affandi, BA.

Karakteristik: Ideologis. Fokus pada peletakan dasar.

Produk Lembaga: Madrasah Diniyah (1980), MTs (1982), RA (1986), MA (1986).

Siklus 2 – Institusionalisasi (1986-2009): Abah Sholeh Hasan

Karakteristik: Ekspansi Formal. Fokus mengubah halaqah menjadi sekolah formal berjenjang.

Pola Rekrutmen Pimpinan: Berbasis Ta’dzhim Senioritas (Junior menyerahkan kepada Senior – Abah Fandi ke Abah Sholeh).

Produk Lembaga: MI Islamiyah (1988), SMK (1994), MAK (1994), Ma’had Aly (1995), PTAIS (1995) -> STIT (1999) -> STKIP (2007).

Siklus 3 – Konsolidasi & Ekspansi Wilayah (2009-2018): Abah Affandi (Periode II)

Karakteristik: Penyelamatan & Penyebaran. Fokus menjaga stabilitas pasca-wafatnya Abah Sholeh dan membuka cabang di luar Sukaraja.

Produk Lembaga: Asrama Putri SMK (2012), Cabang I PPNH Tanah Merah (2013), Al-Umami (2015), Cabang II PPNH Martapura Tahfiz (2017), Rekomendasi IKIP (2018).

Siklus 4 – Kaderisasi (2018-sekarang): KH. M. Tasdiq

Karakteristik: Keberlanjutan Akademik. Pimpinan pertama yang bukan pendiri, melainkan produk didikan sistem itu sendiri.

Pola Rekrutmen Pimpinan: Berbasis Kader Angkatan Awal. Produk Lembaga: Cabang III PPNH Sukamulya (2021), transformasi ke Unuha dengan berdirinya Fakultas dan 3 Prodi Baru dikelola Fakultas Sains dan Teknnologi.

3 karakteristik Utama Model Regenerasi PPNH

Karakteristik Sumber Daya Manusia

Tidak Berbasis Nasab, Berbasis Angkatan.

Jika pesantren lain merekrut pimpinan dari garis keturunan, PPNH merekrut dari garis angkatan. Kriteria utamanya adalah keterlibatan historis sejak awal (Angkatan I).

Karakteristik Ideologi

Pesantren Kurikulum sebagai Perekat.

Yang membuat sirkulasi ini tidak pecah adalah ideologi yang sama sejak 1982: mempertahankan kitab kuning sambil mengadopsi sistem umum. Setiap fase pimpinan tidak mengubah ideologi ini, hanya menerjemahkannya dalam bentuk lembaga yang berbeda.

Karakteristik Kelembagaan

Dari Sentralistik ke Desentralistik.

Deskripsi perkembangan fisik menunjukkan pergeseran:

1980-2009 = Semua lembaga terpusat di Sukaraja.

2009-2018 = Lembaga mulai disebar ke Tanah Merah dan Martapura.

Artinya, regenerasi 2018 terjadi pada saat PPNH sudah bukan lagi satu pondok, melainkan jaringan pesantren.

Regenerasi 18 Juli 2018 adalah peristiwa di mana PPNH Sukaraja secara deskriptif telah menyelesaikan satu lingkaran penuh: Dimulai oleh pendiri, dibesarkan oleh senior dari pendiri yang diundang, dijaga kembali oleh pendiri, dan akhirnya diserahkan kepada anak didik pertamanya.

Eksplorasi konten lain dari Universitas Nurul Huda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca