← Kembali
Dr. Das Salirawati, M.Si dari Universitas Negeri Yogyakarta selaku narasumber memberikan materi Lokakarya kepada peserta. Foto: NHMC Berita

Fakultas Ilmu Pendidikan Gelar Lokakarya Modul Deep Learning, Dorong Guru dan Dosen Kembangkan Pembelajaran Bermakna Berbasis Kearifan Lokal

22 Juni 2025 Nurul Huda Media Center 3 menit baca Berita

SUKARAJA, NHMC – Modul ajar tidak hanya sebagai bahan pembelajaran, melainkan juga harus membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Yayasan Nurul Huda, Dedi Mardiansyah, M.Pd saat membuka kegiatan Lokakarya Pembuatan Modul Ajar Sabtu (21/6/2025) pukul 09.00 WIB di Aula Kampus A Universitas Nurul Huda (UNUHA).

Dr. Das Salirawati, M.Si dari Universitas Negeri Yogyakarta menyampaikan materi Lokakarya kepada peserta. Foto: NHMC

Menurutnya, Kabupaten OKU Timur memiliki potensi besar dalam dunia pendidikan. Dimana bukan hanya sebagai lumbung beras, tapi juga lumbung pesantren dan budaya literasi.

“Kita harus hadirkan modul ajar yang bukan cuma mengajar, tapi juga membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai lokal. Inilah wajah pendidikan masa depan yang kita perjuangkan bersama,” terangnya.

Untuk diketahui UNUHA memprakarsai kegiatan Lokakarya Pembuatan Modul Ajar dengan menghadirkan narasumber dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr. Das Salirawati, M.Si.

Kegiatan tersebut bertemakan “Transformasi Pembelajaran melalui Modul Ajar Berbasis Deep Learning dan Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan OKU Timur”.

Peserta Lokakarya Pembuatan Modul Ajar saat menyampaikan pertanyaan kepada narasumber terkait Modul Ajar.

Lokakarya berlangsung tiga hari, 21-23 Juni 2025 diikuti guru di lingkungan Unit Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda (YPPNH) tingkat SMP/MTs/SMA/MA/SMK, dan guru dari sekolah mitra yang tersebar di OKU Timur.

Masih kata Dedi Mardiansyah. Bahwa penyusunan modul bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan sarana refleksi dan dokumentasi praktik pembelajaran.

“Kami ingin para guru dan dosen menghasilkan karya yang berdampak. Modul ajar adalah jejak intelektual yang mencerminkan bagaimana mereka membimbing peserta didik,” tegasnya.

Dedi berharap lokakarya ini menjadi awal terbentuknya budaya menulis di kalangan pendidik UNUHA dan mitra sekolah.

Foto bersama pengurus YPPNH bersama pihak rektorat, dekan dan narasumber Dr. Das Salirawati, M.Si.

UNUHA merencanakan kegiatan serupa secara rutin, baik secara luring maupun daring, agar menjangkau lebih banyak guru dan mahasiswa.

Modul ajar hasil lokakarya akan masuk ke daftar bahan ajar resmi, dan berpeluang dikembangkan menjadi buku atau publikasi ilmiah.Dengan mengusung pendekatan deep learning dan menggali kearifan lokal, UNUHA ingin melahirkan pendidik yang tak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi.

Melalui kolaborasi, inovasi, dan refleksi, UNUHA terus berkomitmen membangun ekosistem pendidikan yang kontekstual dan berkelanjutan.

Rektor UNUHA Dr. H. Imam Rodin, M.Pd melalui Wakil Rektor II Ainur Rohmah.M.Pd didampingi Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Lailatul Fitriyah, S.S., M.Pd mengatakan, pendidikan yang bermakna harus berakar pada realitas siswa.

Ia menegaskan anak-anak dari desa pun berhak mendapatkan pembelajaran yang layak dan sesuai dengan kondisi sosial budayanya.

Untuk itu kata Ainur, dibutuhkan konsep pembelajaran yang benar-benar berdampak pada siswa, salah satunya berbasis pada pembelajaran yang mendalam dan memuliakan.

“Kalau kita ingin peserta didik berkembang, kita harus bantu mereka belajar dari lingkungan terdekatnya. Modul ajar kontekstual jadi kunci agar pembelajaran lebih hidup,” tegasnya.

Sementara Bu Das sapaan akrab Dr. Das Salirawati, M.Si membuka materinya dengan cara yang unik.

Ia mengajak peserta menyanyikan lagu bertema deep learning. Dirinya ingin peserta memahami bahwa pembelajaran mendalam tidak bisa berjalan jika tidak dimulai dari suasana hati yang bahagia dan sadar akan makna belajar.

Bu Das menjelaskan pendekatan deep learning bertumpu pada empat prinsip utama: memuliakan, berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengasah rasa dan nilai dalam diri siswa.

“Kalau guru hanya menyampaikan materi tanpa membangun suasana belajar yang bermakna, siswa tidak akan mengingat pelajaran. Tapi jika guru mengajar dengan hati, hasilnya bisa tertanam selamanya,” ungkapnya.

Bu Das juga mengajak peserta untuk menggali potensi budaya lokal seperti tradisi Komering, sejarah pesantren, dan tokoh masyarakat sekitar sebagai bahan ajar yang kaya dan relevan.

Ia menyayangkan jika guru lebih banyak mengambil contoh dari luar kearifan lokal, padahal kisah lokal punya kekuatan membentuk karakter. (mg3/mg4/je/asa)

Eksplorasi konten lain dari Universitas Nurul Huda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca